Sepatu Baru Langit

 

Sebetulnya saya ga suka sepatu anak yang bunyinya berdecit-decit. Ga suka bunyinya. Sebagai orang yang gampang kebangun ama suara remeh temeh, decitan itu cukup ganggu bagi saya. Lalu saya pun bertekad, nanti kalo punya anak, ga akan dibeliin sepatu macem gitu.

Tekad itu hanya bertahan sampe hari ini.

Tadi siang, kami sekeluarga ngadem ke mol. Suami mo cari sendal. Saya mo mengobati kedahagaan saya akan udara dan pemandangan di mol yang padahal baru saya kunjungi sekitar 2 minggu lalu.

Di toko sepatu, karena Langit ikutan rese nyoba-nyoba sepatu orang gede, saya bawa dia ke bagian sepatu anak dan bayi. Eh ada yang lucu. Dicobain, dia seneng. Bapaknya juga seneng. Emaknya ikutan seneng. Tapi kok ada bunyi decit-decitnya ya? Saya liat suami, pingin tau pendapatnya.

“Ga papa, ambil aja,” gitu katanya.

Ya sudah lah ya, secara bukan saya yang bayar, saya mah oke-oke aja. Apalagi modelnya lucu, ga kayak sepatu bayi banget. Tadinya mo sekalian nyelipin sepatu yang udah saya cobain sebelumnya. Tapi kayaknya ga mungkin lolos.

Langit langsung ogah duduk di stroller, dia hepi jalan ke sana-sini, dorong-dorong stroller-nya.

My heart melted. We went home with a cheerful 1-year-old baby boy.

Tiga Belas Bulan

Hari ini, 18 Januari 2017, Langit genap berusia 13 bulan. Mulai pagi tadi dia bisa berdiri sendiri tanpa dibantu. Alhamdulillah siang tadi dia bisa jalan sendiri. Saking girangnya, dia malah sempet nyungsep di lapangan badminton pas diajak main ke sana sore tadi!

It’s an overwhelming feeling being a mother is. You’re filled with love for your child, the love that’s even bigger than you’ll ever love yourself.

Saya bukan ibu yang baik. Not yet. Masih belajar dan berusaha untuk jadi seperti itu. It’s one hell of a journey. Dan walopun banyak drama, in my opinion, saya berhasil melewati tahun pertama dengan cukup baik 😀

Langit mungkin belum bisa ngomong (baru bisa mengeong dan bilang mamam). Jalannya juga masih tertatih, belum mantap menjejak. Dia juga masih takut ama ini-itu, ga mau digendong ama orang selain ortu dan kakeknya. Tapi dia tumbuh dengan iramanya sendiri, menikmati tiap harinya, and he will get there eventually. I’m so proud of you, my baby boy!