Cermin

Kenapa cuma kamu yang bisa hidup bebas?

Bayangan di cermin itu menatap iri pada gadis di depannya. Pada rambut hitam ikalnya yang indah, pipinya yang merona, mata coklat besarnya..

Aku juga punya semua yang kamu punya. Tapi aku terjebak di sini, sementara kecantikanmu bebas untuk dikagumi orang. Kamu harus rasakan yang aku alami.

I won’t forgive you because you’re free!!

Pagi itu sang gadis berbeda dari biasanya. Dia kelihatan puas pada dirinya sendiri. Kecantikannya tampak lebih memukau. Rambut hitamnya ikalnya lebih berkilau. Mata coklatnya lebih bersinar.

Dia melirik cermin kesayangannya di sudut ruangan. Seulas senyum aneh terbentuk di bibirnya yang indah. Lalu, ditinggalkannya kamar itu, tanpa bercermin seperti hari-hari lainnya.

Sesosok bayangan menatapnya dari dalam cermin. Keputus-asaan terpancar dari sorot mata coklatnya. Tangannya lemah memukul permukaan cermin. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara… membentuk kata, “Tolong..”

3 Replies to “Cermin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *