New Journey

Sore ini, sebuah email masuk ke inbox. Email yang sepertinya bakal jadi salah satu tonggak bersejarah di masa hidup saya. Norak ya? Lebay ya? Gpp deh. Mohon dimaklumi aja. Ga tiap hari nerima email gini 😀

Plot Point, book publisher yang Kelas Nulis Novel Dasar-nya pernah saya ikutin tahun lalu, bikin project untuk nerbitin novel bagi alumnusnya. Bareng ama Vanny, saya ikutan project itu dengan bikin proposal naskah novel. Di-submit pada detik-detik terakhir (thanx to ur dedication, bebeb Vanny). Sepuluh hari setelah deadline, pengumuman pun di-email-kan.

Rasanya scroll down paling mendebarkan yang bisa saya ingat. Nama saya & Vanny pun terpampang. Which means, our novel is gonna be published!

Omaigat-omaigat!

I’m speechless. Vanny called and she sounded hysterical.

A door had just opened in front of us. Our journey had just started.

Sang Vampire

Kastil itu tampak mencuat dilatarbelakangi langit malam setelah berbelok melewati pohon pinus yang berdiri rapi layaknya pasukan serdadu yang sedang upacara. Bulan terlihat merah dari sela dedaunan runcing. Kulambatkan laju mobil saat memasuki pekarangannya. Pagar besi yang dulu berdiri kokoh terkulai miring kehabisan tenaga. Sekumpulan karat telah menguasai permukaannya.

Setelah meninggalkan mobilku sendirian, aku menaiki tangga menuju teras. Semilir angin dingin menyegarkan tubuhku setelah berkendara dari tadi. Lolong anjing hutan lamat-lamat terdengar. Cocok sekali dengan suasana malam ini. Langkahku terhenti di depan pintu kayu yang keropos dimangsa keganasan waktu. Masih tampak sedikit sisa-sisa keangkuhan masa lalunya. Berhati-hati, pintu itu kudorong membuka.

Aku disambut udara apak dan masam yang menyerang mata dan tenggorokanku. Ruang kosong berdebu serta sebaris tangga melingkar tampak di hadapanku. Seperti yang telah diinstruksikan padaku, aku pun melangkah menuju tangga. Pandanganku menyapu sekitar. Diterangi nyala remang perapian, aku bisa melihat dinding kusam dan sarang laba-laba di beberapa sudut. Semua menunjukkan usia yang telah dilalui kastil ini.

Tangga berderit pelan menahan beban tubuhku saat kunaiki tiap anaknya. Kepulan debu menghempas dari karpet lusuh yang melapisinya. Persis seperti deskripsi di surat yang kuterima, dari ujung tangga, aku melihat pintu yang terbuka lebar, menuju kamar sang tuan rumah.

Kamar Sang Vampire.

Itu menurut warga desa. Tuan Williams, pemilik kastil tua di pinggir hutan, adalah sesosok makhluk abadi yang menjadikan darah sebagai penyambung hidupnya. Tidak ada yang pergi ke sana bisa kembali lagi dalam keadaan bernapas. Saat pertama mendengarnya, aku sempat penasaran. Tapi lama-lama, semua omongan itu hanya gema yang diucapkan berulang-ulang dengan kata-kata nyaris sama sehingga membuatnya kehilangan makna. Bagai celoteh burung kakaktua kepunyaan Tuan Adams, pemilik toko obat, yang menyapa tiap pengunjung yang datang dengan kalimat yang itu-itu saja. Menyenangkan pada awalnya, tapi membosankan jika sering didengar. Bagiku, berada di jalan pinggir kota di mana gelandangan dan berandalan berputar mengitari mangsa untuk dikeruk hartanya, lebih menggentarkan dibanding berada di kastil tua yang gelap dan berdebu. Tapi sepucuk surat yang diantarkan seorang anak kecil pagi ini membangunkan rasa penasaran yang telah lama lelap. Tuan Williams sedang sakit dan memintaku untuk datang. Surat itu merupakan alasanku untuk mengunjungi kastil tua itu dan mengenyangkan rasa ingin tahuku.

Kayuhan langkahku terhenti sesaat kala kudengar suara mendesau memanggil namaku.

“Silakan masuk, Dokter Winchester!”

Aku maju dan menemukan sesosok tubuh tua teronggok di kursi dekat jendela. Kulitnya pucat dan keriput, rambutnya putih beruban. Dia akan kusangka semacam mumi, jika matanya tidak membuka dan menatapku.

“Kau benar-benar datang, Dokter,” sapanya dengan susah payah. Seakan sudah bertahun-tahun dia tidak pernah memakai suaranya. “Apakah kau tidak tahu, atau kau memang bodoh?”

Aku agak tersinggung mendengarnya. “Maaf?”

“Kau tentu telah mendengar apa yang dikatakan penduduk desa tentang aku, bukan?”

“Dengan segala hormat, Tuan, aku hanya memenuhi kewajibanku sebagai dokter. Surat Anda mengatakan bahwa Anda membutuhkanku.”

Tubuh tua di hadapanku terbatuk dan terguncang. Aku mengernyit, lalu menyadari bahwa dia hanya tertawa.

“Tak apa, tidak usah ditutupi. Kau boleh mengatakan kalau sebagian alasan kau datang ke sini karena kau penasaran,” ujarnya. “Sebelum kembali ke desa kelahirannya, pelayan setiaku mengupah seorang bocah untuk mengirimkan surat padamu. Aku tahu, jika aku beralasan sakit, kau pasti datang…” Dia menghela napas, mengumpulkan kekuatan sebelum bertanya, “Kau tahu berapa umurku, Dokter?”

Dahiku berkerut, tidak menyangka akan diajukan pertanyaan seperti ini. Kuperhatikan baik-baik tubuh rentanya. Jari-jari panjang dan kurus dengan kuku tajam dan kotor, mengingatkanku pada ranting pohon di musim gugur. Rambut putih panjangnya tidak terurus, hidungnya bengkok, bibirnya kering dan pecah-pecah bagai tanah saat kemarau panjang. Matanya berkabut, menatapku dengan cahaya yang nyaris pudar. Semua yang ada padanya mengisyaratkan sesuatu yang kuno. Gemerlap kehidupan seakan meninggalkannya untuk menua dan mati perlahan. Perasaan yang sama seperti saat kau melihat jejeran nisan di pemakaman; sepi dan terlupakan. Aku membasahi bibirku, tidak yakin angka mana yang harus aku keluarkan untuk menjawab pertanyaannya.

Dia terkekeh parau, tampak senang karena aku kesulitan menjawab kuis kecil-kecilannya. “Dokter Winchester, umurku sudah ratusan tahun!”

Aku berjengit. Mulutku kubuka, siap menyuarakan ketidakpercayaan. Tapi jari-jari kurusnya terangkat perlahan, membuatku mengatupkan mulutku kembali.

“Kau tahu, Dokter? Omongan teman-temanmu di desa benar.” Dia menggelengkan kepala rapuhnya. “Tapi aku sudah letih…”

Aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Kenyataan yang baru diproses otakku memakan kemampuan berbicaraku. Jadi orang tua ini mengakui dirinya vampire? Tapi dari cerita-cerita khayalan yang kubaca, vampire hidup abadi. Dia tidak bisa menua, tidak seperti tubuh renta di hadapanku sekarang. Mungkin akal sehatnya telah luruh ditelan debu dan kesuraman kastil ini.

Seakan bisa membaca pikiranku, pemilik kastil itu mengangkat tangan kanannya. “Kau belum bisa percaya jika bukti belum terhidang di bawah hidungmu, bukan?” ujarnya sambil menorehkan kuku tajam pada nadi pergelangan kiri. Kulit kusutnya terkoyak, tapi kucuran merah darah segar absen dari lukanya.

Kata-kata seakan terbang meninggalkanku. Aku ternganga. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa darah. Berarti benar dia ini bukan manusia?

Terlihat puas menikmati reaksiku, ia melanjutkan pembicaraan. Suaranya berkeretak bagai potongan kayu terbakar api unggun. “Sudah lama sekali sejak aku kehilangan gairah untuk hidup abadi. Semua orang berpikir, keabadian sangat menyenangkan, sesuatu yang diidam-idamkan. Tapi sesungguhnya itu sangat menyedihkan. Sepi dan sendiri. Kau tidak bisa mencintai siapa pun karena kau pasti akan ditinggal mati. Pada akhirnya, apa yang jadi sisa dari hatimu, terenggut oleh kesedihan, dan kau tidak akan bisa merasakan apa pun lagi. Letih… Lelah… Tapi tak peduli berapa lama pun aku menunggu, kematian tidak akan pernah menghampiriku. Aku hanya melemah, menua, membusuk, apa pun selain mati.” Sepasang matanya memaku mataku. “Aku hanya ingin semua ini berakhir, Dokter.”

Kesedihannya yang tulus menulariku. Mengalir dari alunan suaranya, merasuki ujung rambut dan  permukaan kulit, untuk lalu membanjiri seluruh sendiku. Vampire di hadapanku ini tidak berbahaya, dia hanyalah seorang malang yang diterpa badai penderitaan lebih dari yang bisa ditelannya. Aku mengerti rasanya ditinggalkan. Lima tahun lalu kekasihku meninggal karena sakit. Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menghapus gambarannya dari tiap sudut hati dan pikiranku. Karena itu, sedikitnya aku bisa membayangkan betapa sakitnya tercabik perlahan selama ratusan tahun. Akal sehatku yang menolak mengakui omongan penduduk desa dikalahkan oleh rasa iba. Entah bagaimana, aku percaya dan bersimpati pada vampire tua ini.

“Anda yang memanggilku ke sini, Tuan Williams, apa yang bisa kulakukan untuk Anda?”

Telunjuknya yang bersalut kulit pucat dan keriput menunjuk ke arah perapian, pada besi pengorek yang bersandar di sana. “Aku yakin kau pasti telah membaca cukup banyak, bahkan hal-hal omong kosong seperti bagaimana cara membunuh vampire, bukan, Dokter?”

Aku mengangguk. Kuseret langkahku menuju perapian. Besi pengorek itu terasa berat dan dingin di tanganku. Dari luar, nyanyian anjing hutan kembali terdengar bersahutan. Aku menghela napas memantapkan hati, lalu melangkah menuju kursi yang diduduki Tuan Williams, sang vampire tua yang baru saja kukenal.

Note: dibuat untuk Modul 8 dan 9 Kelas Novel Dasar Online

Cinderella: The Other Story

Note: dibuat untuk Modul #4 Kelas Novel Dasar Online. Modul ini tentang plot, makanya dibuat per bagian seperti ini.


Bagian I: Kabar tentang pesta dansa di kediaman Sang Bangsawan

Cinderella termenung menatap surat kabar di tangannya.  Di situ tertulis berita tentang pesta nanti malam yang diadakan Tuan Nicholas, bangsawan terpandang dan terkaya di kota ini. Pesta itu dibuat untuk merayakan ulang tahun putranya, Josh, yang menginjak usia 25 tahun, sekaligus untuk mencarikan pasangan bagi anak semata wayangnya itu. Karena itu, seluruh gadis lajang di kota itu diundang untuk menghadirinya.

Cinderella pernah bertemu dengan Josh lima tahun yang lalu, saat dia pergi ke pusat perbelanjaan di kota bersama ayahnya. Waktu itu Cinderella baru saja berulangtahun ke-17. Ayahnya lantas membawanya ke kota, untuk memilih sendiri hadiahnya. Saat itu Josh baru keluar dari penjahit kenamaan yang biasa membuatkan pakaian para bangsawan. Dia berjalan menuju mobilnya diiringi dengan dua orang pengawalnya. Josh sangat tampan, bermata biru dan berambut pirang keemasan. Cinderella tidak bisa melupakan wajah itu. Gadis muda itu langsung jatuh cinta padanya.

Bagian II: Ibu & saudara tiri Cinderella yang datang setelah ayahnya meninggal

Semua itu membuatnya teringat akan ayahnya. Orangtua satu-satunya itu meninggal setahun yang lalu. Cinderella sangat menyayanginya dan merasa sangat kehilangan. Hanya seminggu setelah ayahnya meninggal, datang seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya. Wanita itu berasal dari kota seberang, kota yang biasa didatangi oleh ayahnya saat berdagang. Hati Cinderella hancur, dia tidak menyangka ayahnya akan mencintai wanita lain selain ibunya. Mengapa ayahnya tidak pernah bercerita apapun padanya?

Wanita itu, ibu tirinya, membawa serta anaknya. Gadis yang sebaya dengan Cinderella. Rambut ikal pirang serta bulu mata lentik yang menghiasi sepasang mata biru cerahnya, membuatnya terlihat seperti boneka yang sangat cantik. Kakak tirinya itu bernama Marianne.

Berbeda dengan Cinderella yang pendiam dan pemurung, Marianne sangat lincah dan ceria, membuatnya disukai para tetangga atau relasi ayahnya yang datang berkunjung. Satu hal yang mereka tidak ketahui adalah, kakak dan ibu tirinya itu sering meremehkannya, memperlakukannya dengan seenaknya. Cinderella sering disuruh membersihkan rumah dan ibu tirinya akan mengamuk jika ditemukan masih ada debu walaupun sedikit. Marianne sering menyuruhnya mencuci pakaiannya dan membersihkan kamarnya.

Bagian III: Persiapan untuk pesta dansa

“Cinderella!!”

Seruan itu mengejutkan Cinderella. Surat kabarnya dilemparkan begitu saja. Bisa gawat kalau dia tidak segera datang jika dipanggil.

Sedikit terengah-engah, Cinderella memasuki kamar Marianne. Dilihatnya, kakak tirinya itu sedang mencoba sehelai gaun berwarna biru. Di sekelilingnya, di atas kasur dan di lantai, bergeletakan gaun-gaun lainnya. “Ada apa, Marianne?” tanyanya pelan.

“Bantu aku dengan gaun ini!” sahut Marianne dengan nada yang lebih mirip memerintah daripada minta tolong.

Cinderella mendekat, menutup resleting di punggung dan merapikan lipatan-lipatan gaun itu. Marianne lalu mematut-matut diri dengan senang di depan cermin.

“Kamu mau ke mana, Marianne?” Cinderella memberanikan diri untuk bertanya.

“Pesta di kediaman Tuan Nicholas kan malam ini. Aku harus tampil cantik, lebih cantik dari biasanya,” sahut Marianne, lalu berputar menghadap Cinderella. “Bagaimana menurutmu?”

Cinderella menatap iri pada kakak tirinya itu. Warna biru di gaun yang dikenakannya membuat kemilau matanya semakin indah. Dengan terpaksa diakuinya, “Kamu cantik…”

“Oh, itu sudah pasti!” Marianne terkekeh senang. “Ya sudah, pergi sana! Jangan lupa untuk membereskan rumah ini! Pel lantainya sampai mengkilap! Bersihkan semua perabotan, jangan sampai ada debu sedikitpun!”

Cinderella terkesiap. “Tapi pesta dansa malam ini…”

“Hei, kamu tidak terpikir untuk hadir kan? Ibu pasti tidak akan memperbolehkanmu. Lagipula, lihat saja dirimu!” Marianne menunjuk cemong di muka Cinderella, bajunya yg lusuh dan rambutnya yang kusut. “Kamu tidak mau mempermalukan dirimu sendiri kan?” dia lalu tertawa mengejek.

Cinderella berlari ke kamarnya. Dia merasa terhina. Tidak ada yang berani memperlakukannya begini saat ayahnya masih hidup. Dia ingin pergi ke pesta itu. Dia harus pergi ke pesta itu.

Bagian IV: Pesta dansa

Malam itu, saat Marianne dan ibu tirinya pergi ke pesta dansa, Cinderella mengawasi dari jendela dengan diam-diam. Tekadnya sudah bulat. Dia berlari menuju kamarnya, di mana dia menyimpan peti berisi barang-barang peninggalan ibunya. Dari situ, diambilnya sehelai gaun indah berwarna putih keperakan. Dikenakannya gaun itu. Disisirnya rambut hitam panjangnya. Dia lalu tersenyum. Ternyata gadis cantik itu selama ini masih ada, hanya tersembunyi di balik debu dan kumal pakaiannya. Sekarang tinggal sepatunya. Cinderella tidak mempunyai sepatu yang pantas untuk dikenakan dengan gaunnya. Dia lalu teringat pada koleksi sepatu Marianne. Dipilihnya sepasang yang juga berwarna putih keperakan. Sangat serasi. Dari lemarinya, diambilnya sebuah topeng pesta yang pernah dikenakannya pada pesta kostum yang dulu dihadirinya. Cinderella tidak mau mengambil resiko dikenali oleh kakak dan ibu tirinya.

Cinderella bercermin untuk terakhir kalinya sebelum pergi. “Tunggu aku, Pangeranku,” bisiknya senang.

Pesta dansa di kediaman Tuan Nicholas kali itu mengundang kehebohan. Josh, sang tuan muda, tampak asyik berdansa dengan seorang gadis misterius yang mengenakan topeng pesta. Semua mata memandang pada gadis itu dan gaun keperakannya yang melambai indah, sesuai irama tari mereka. Josh tampak terpesona pada gadis yang baru dikenalnya itu.

Cinderella sangat senang. Dia berhasil datang ke pesta dansa itu dan berdansa dengan Josh. Dia bisa melihat tatapan iri gadis-gadis lain. Tapi tidak ada yang lebih membuatnya puas selain tatapan Marianne. Sedih, marah dan cemburu bercampur jadi satu dalam matanya. Cinderella sangat menikmatinya.

Tiba-tiba terdengar lonceng jam di menara tengah kota, menandakan waktu tengah malam. Cinderella tersentak. Dia masih sangat ingin berada di sini, tapi dia harus segera pulang. Jika tidak mau ketahuan, dia harus ada di rumah sebelum kakak dan ibu tirinya tiba. Tergesa, ditinggalkannya Josh.

“Hei, tunggu! Aku belum tahu namamu!” seru Josh, berusaha menahan gadis yang telah menarik hatinya.

Tapi Cinderella telah pergi. Di tangga beranda, hanya tertinggal sebuah sepatu keperakan yang tadi dikenakannya. Josh mengambil dan mengamatinya. “Aku pasti akan menemukanmu,” katanya pelan.

Bagian V: Pencarian Sang Putri

Keesokan paginya, dengan lega karena aksi semalamnya tidak ketahuan, Cinderella pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dilihatnya hampir setiap orang bergerombol sibuk membicarakan sesuatu.

“Tuan muda Josh hendak mencari pasangan sepatu yang ditinggalkan oleh gadis semalam. Katanya dia akan menikahi si gadis. Wah, Tuan Muda benar-benar jatuh cinta ya?” ibu pemilik toko bahan pokok memberitahunya.

Cinderella terkesiap. Sepatu yang dipakainya semalam adalah milik Marianne. Jika Josh menemukannya, maka dia pasti akan menikahi kakak tirinya itu. Tidak ada yang akan percaya kalau Cinderella lah gadis dari pesta dansa semalam. Marianne dan Josh akan jadi pasangan yang serasi, dengan rambut pirang dan mata biru mereka itu. Cinderella tidak akan membiarkan kebahagiaan yang nyaris diraihnya itu menjadi milik kakak tirinya. Dia harus berbuat sesuatu. Terburu-buru, dia melangkah pulang.

Bagian VI: Cinderella dan Pangeran pujaannya

Saat rombongan Josh memasuki pelataran rumahnya, Cinderella baru saja melangkah masuk dari kebun kecil di halaman belakangnya. Sekop dan pisau yang tadi digunakannya, telah dibersihkan. Dengan penuh semangat, dia menunjukkan pasangan dari sepatu yang dibawa oleh salah satu pengawal Josh. Josh pun melangkah maju, menyambut gadis pujaannya.

“Aku belum tahu namamu,” kata Josh.

“Cinderella,” jawab Cinderella sambil tersipu. Josh tampak lebih tampan dari yang diingatnya semalam.

“Cinderella, maukah kau menikahiku?”

Senyuman bahagia terlintas di wajah Cinderella. “Tentu saja, Josh!” sahutnya senang.

Bergandengan tangan, mereka berjalan beriringan menuju mobil Josh yang hendak membawanya ke kediaman Josh di kota.

“Omong-omong, kau hanya tinggal sendiri di rumah itu, Cinderella?”

“Hm, hanya bersama dua ekor tikus pengganggu yang baru saja kubunuh dan kukubur di halaman belakang…”

Aku Dalam Cermin

“Kau yang membunuhnya!”

Aku menatap bayanganku yang terpantul di cermin. “Tidak, aku tidak membunuhnya!” bantahku.

Bayanganku di cermin balik menatapku. “Kau tahu aku benar,” katanya sambil menyeringai.

“Itu kecelakaan. Mia terpeleset di tangga sekolah. Semua orang tahu itu,” aku masih mencoba membantah. Pemandangan itu terulang di benakku. Mia tergeletak di dasar tangga. Matanya terbeliak. Lehernya tertekuk ke arah yang salah.

“Itu memang yang diketahui semua orang. Tapi tidak ada yang tahu kau berdiri tepat di belakangnya,” bayanganku masih menyeringai menatapku. Tatapannya melecehkan. “Hanya aku yang tahu itu,” tambahnya.

“Lalu kenapa jika aku ada di belakangnya?”

“Kau mendorongnya,” sahutnya. Matanya menatapku tajam. “Dia tidak jatuh dengan sendirinya, kau tahu benar itu,” tambahnya.

Aku menggeleng kuat-kuat. Tuduhannya menyakitkanku. Tapi aku tidak terlalu yakin. Mungkin saat di tangga itu, aku memang berdiri terlalu dekat dengannya.

“Kau membencinya. Kau iri padanya.”

“Mengapa aku harus iri padanya?”

“Mia mendapatkan Tom. Tom, satu-satunya cowok yang sangat kau sukai. Kau cemburu. Kau berharap dia tidak ada, sehingga Tom bisa kau dapatkan.”

“Tidak, kau salah!” bantahku, nyaris berteriak. “Aku memang menyukai Tom. Tapi aku terlalu malu untuk menunjukkannya. Mia pantas mendapatkan Tom. Dia cantik, pintar, pandai bergaul…” suaraku menghilang. Sedikit menyakitkan mengakui kelebihan Mia.

“Ya, tapi kau tahu kan, Mia bahkan tidak menyukai Tom. Dia hanya mengejar cowok itu karena dia tahu kau menyukainya,” bayanganku terkekeh mengejek.

Aku membuka mulutku, berusaha membantah. Tapi tidak ada kata yang keluar. Aku tahu semua yang dikatakan bayanganku benar. Mia hanya menggodaku. Dia mengejar Tom hanya untuk menunjukkan padaku kalau dia bisa mendapatkannya.

“Mia senang mengganggumu kan? Baginya, kau hanya mengganggu pandangannya. Gadis yang tidak menarik, pendiam, pemurung. Benar-benar berbeda 180 derajat darinya. Kau menyedihkan!” seru bayanganku tanpa kenal ampun.

Aku menutup telingaku. “Hentikan!”seruku. Mataku terasa pedih. Sekuat tenaga aku berjuang agar air mataku tidak mengalir.

“Sore itu saat kau lihat Mia berdiri di ujung tangga. Hanya sendirian, tidak ada orang lain di sekitarnya. Kau tidak bisa melewatkan kesempatan itu. Dengan tega, kau mendorongnya!”

“Tidak!!” suaraku terasa serak karena menahan tangis. “Aku hanya menyentuh bahunya. Dia terkejut, sehingga terpeleset dan jatuh. Percayalah, itu yang sebenarnya terjadi…” pintaku dengan suara lemah. Bahkan aku sendiri menganggap bantahanku tidak terlalu meyakinkan. Mungkin sentuhanku terlalu kuat. Atau mungkin apa yang dikatakan bayanganku benar.

“Kau tidak hanya menyentuh bahunya, kau mendorongnya! Akuilah! Kau bahkan melakukannya sambil tersenyum. Kau tidak punya hati! Kau tidak berperasaan!”

“Hentikan!!” seruku. Pertahananku tumbang. Aku merasakan sebulir air mata mengalir di pipiku, diikuti oleh bulir-bulir lainnya. Perlahan aku terisak. “Mengapa kau begitu jahat? Teganya kau menuduhku seperti itu!”

“Aku jahat? Tidak, kau yang jahat. Mengapa? Karena bukan aku, tapi kau yang membunuhnya!” bayanganku tertawa mengejek. “Kau pembunuh!!” jarinya terangkat, menuding padaku, sebelum berbalik dan beranjak meninggalkanku.

“Hei, tunggu! Jangan tinggalkan aku! Hei!” seruku. Tanganku memukul-mukul permukaan cermin. Berusaha mencari jalan keluar. Tapi tidak bisa. Aku terjebak di sini, di dalam cermin. Hei, dia bukan bayanganku. Aku lah sang bayangan. Aku tidak membunuh Mia, dia yang melakukannya. Dia menyalahkanku atas perbuatannya. “Keluarkan aku dari sini!” pukulanku pada permukaan cermin semakin kuat. Aku harus menghentikannya. Sebelum dia membunuh orang lain lagi, aku sendiri yang akan membunuhnya.

Note: dibuat untuk Modul #6 Kelas Novel Dasar Online