The Avengers for the Third Time

And i watched The Avengers for the third time in cinema.

Haha, i just can’t get enough of them. Especially the one with the bow and arrows 😀

The cast of The Avengers, minus Loki (pic source: popwatch.ew.com)

So there we were, i drooled rainbow over Renner while Vanny squeaked everytime Hemsworth showed. Just like teenage all over again 😀

After the good times we spent drooling over those earth’s mightiest heroes, Vanny asked me to watch Snow White and The Huntsman eventhough she knew i’m a Twilight-phobia. Luckily i managed to dodge it, just like Captain America said to Loki when they were fighting: “Not this time!”.

Sorry, darl, there’s no way i want to erase the warm & fuzzy feeling of Jeremy Renner fangirling with that brick-faced b*tch (forgive my language, 9gag is my everyday meal, and it’s not exactly english literature there).

Looking good there, y’all! (pic source: celebitchy.com)

But since she promised to accompany me watching upcoming Renner’s movie, i think i might as well accompany her watching Snow White and The Huntsman.

Brave yourself, me *take a long deep breath*

Oh, and i’d like a shawarma with that, too, okay Van?

New Journey

Sore ini, sebuah email masuk ke inbox. Email yang sepertinya bakal jadi salah satu tonggak bersejarah di masa hidup saya. Norak ya? Lebay ya? Gpp deh. Mohon dimaklumi aja. Ga tiap hari nerima email gini 😀

Plot Point, book publisher yang Kelas Nulis Novel Dasar-nya pernah saya ikutin tahun lalu, bikin project untuk nerbitin novel bagi alumnusnya. Bareng ama Vanny, saya ikutan project itu dengan bikin proposal naskah novel. Di-submit pada detik-detik terakhir (thanx to ur dedication, bebeb Vanny). Sepuluh hari setelah deadline, pengumuman pun di-email-kan.

Rasanya scroll down paling mendebarkan yang bisa saya ingat. Nama saya & Vanny pun terpampang. Which means, our novel is gonna be published!

Omaigat-omaigat!

I’m speechless. Vanny called and she sounded hysterical.

A door had just opened in front of us. Our journey had just started.

Mengejar Jeremy Renner

With a face like this, who am i not falling for him?

He’s Doyle, the sniper, in 28 Weeks Later. He’s Sergeant William James in The Hurt Locker. He’s Agent William Brandt in Mission Impossible Ghost Protocol. And he’s Agent Clint Barton aka Hawkeye in The Avengers (and i’m the Black Widow to that Hawkeye, haha).

Jeremy Lee Renner. Atau yang lebih dikenal sebagai Jeremy Renner. Ternyata saya udah lama tau tampangnya. Sempet mencuri perhatian dari sekian banyaknya episode CSI Las Vegas yang saya tonton. Season 2 episode 6, tepatnya. He was Roger Jennings, a bad boy, criminal. And cute. Haha.

Jeremy Renner as Doyle in 28 Weeks Later

Baru denger soal dia lagi pas barisan pemaen The Avengers tersiar. Ga gitu ngeh sampe liat-liat gambarnya di lelucon The Avengers di 9gag. And i was like, ‘i knew this guy somewhere’. Then i remember CSI. What a long way back there xD

Jeremy Renner as William James in The Hurt Locker

Setelah nonton The Avengers kedua kalinya, dimulailah perjalanan mengejar Jeremy Renner. I feel like i’m having so little time to catch up this guy. I missed him during his finest movies, The Hurt Locker & Mission Impossible Ghost Protocol. Dengan koneksi internet yanasib yasalam, dimulailah pendonlotan yang memakan waktu sehari semalem cuma buat donlot 2 film itu doang.

But it was worth it. He’s cool & hot at the same time. Dan seperti pengamatan saya dan Takodok, he has damn nice a**! Haha. Cukup laaah untuk jadi distraksi. Kalo pingin tau, coba liat The Hurt Locker, pas adegan dia lagi sikat gigi di wastafel sambil ngobrol ama Sanborn. Atau di Mission Impossible Ghost Protocol, pas dia narik Ethan Hunt di jendela hotel, dan pas dia siap-siap mo terjun ke kipas gede di sebuah server. Ahahaha. Hey, it’s not like i’m being perverted. Tersaji begitu saja kok, rugi kan kalo ngga diliat? ^^

Jeremy Renner as Hawkeye in The Avengers. Tampak depan & belakang, hihi 😀

Saking ga ada kerjaannya, saya suka bengong aja ngeliatin foto-foto dia pas jadi Hawkeye. And then i realized something: he’s left-handed, no? That’s cute. Irrelevant, but still cute xD

Dari info yang saya dapet hasil nge-IMDb, tokoh William Brandt ini diciptakan sebagai pengganti Ethan Hunt, kalo Tom Cruise mutusin untuk cabut dari Mission Impossible. Dia bahkan melakukan adegan hovering yang jadi signature-nya Tom Cruise di Mission Impossible. Aw, you’ve become that big, eh Renner?

Jeremy Renner as William Brandt in Mission Impossible Ghost Protocol

Yang terbaru, dia bakal muncul di Bourne Legacy dan film Hansel and Gretel. Can’t wait to see him there. Lalu berlanjutlah perjalanan saya mengejar Jeremy Renner 😀

PS: I don’t care about rumour involving his sexual preference, whether it’s true or not. I think it’s irrelevant to his look and his acting. Besides, it’s not like i’m gonna marry him or anything, right? 

Dewa Inspirasi, Di Manakah Kau Berada?

Image
Gackt, dewa inspirasi saya. Ahaha, ini kan ceritanya!

Di kantor saya, tiap Jumat diadakan kegiatan hiburan yang sifatnya berbagi hal-hal menyenangkan dan inspiratif atau memotivasi. Jumat minggu lalu, video pendek yang diputar bikin saya ngejedang. Video Elizabeth Gilbert saat dia berbicara di ajang TEDx. I’m not a fan of her, nor a hater. I just don’t read her book nor watch the movie. Saya merangkum pembicaraannya dalam bahasa dan penangkapan saya sendiri bagi mereka yang males atau tidak sempat menonton videonya, atau semata-mata ingin baca tulisan saya 😀

Anyway, dia berbicara tentang momen inspirasi yang biasanya terjadi di orang-orang kreatif. Orang-orang ini biasanya dianggap memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dibanding orang kebanyakan. Mengapa? Karena dianggap sebagai orang kreatif, mereka dianggap mampu untuk menghasilkan sesuatu yang tidak biasa. Dan jika ekspektasi itu tidak terpenuhi, mereka dianggap gagal. Tekanan ini akan semakin besar, jika orang kreatif tersebut telah menghasilkan sebuah mahakarya. Maka masyarakat akan menanti-nanti karya berikutnya, dan membandingkannya dengan mahakaryanya itu. Karena itu tidak jarang seorang insan kreatif hanya menghasilkan satu mahakarya yang membuat dia dikenal, lalu tidak ada karya lainnya.

Elizabeth Gilbert pun mengalami hal seperti ini. Buku Eat, Pray, Love-nya meledak di pasaran dunia. Best seller dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Menurutnya, hampir setiap orang yang bertemu dengannya, menanyakan apa karya berikutnya? Apakah dia tidak takut buku berikutnya tidak sefenomenal Eat, Pray, Love? Bahkan dia telah dihadapkan oleh pertanyaan semacam itu saat dia memutuskan untuk menjadi penulis. “Kamu tidak takut untuk menjadi penulis? Yakin dengan itu kebutuhanmu bisa tercukupi? Yakin kamu akan menjadi penulis handal?”. Kalau menyangkut pekerjaan/profesi, ga ada yang mempertanyakan seorang engineer misalnya, apakah dia yakin mau menjadi seorang engineer, apakah dia yakin menjadi seorang engineer bisa mencukupi kebutuhannya.

Gilbert pun berkisah, di masa lalu, jaman para filsuf dan seniman Yunani-Romawi berjaya, kreativitas tidak dianggap berasal dari buah pikiran masing-masing individu. Kreativitas merupakan satu entitas lain yang memilih untuk mendekat dan hinggap pada orang tertentu. Individu tersebut hanyalah semacam vessel, alat untuk melahirkan hasil kreativitas tersebut. Jika berhasil, maka pujian tidak sepenuhnya diterima dengan jumawa oleh si seniman, karena itu bukan murni karyanya. Sebaliknya, jika gagal, maka seniman tersebut tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena toh itu berarti dewa kreativitas yang menghinggapinya lagi bodoh aja.

Walaupun terkesan aneh dan lucu, tapi pemikiran seperti ini menyelamatkan. Tekanan sosial pada para seniman dan orang-orang kreatif lainnya tidak terlalu menyesakkan. Orang bisa berkarya dengan bebas, tanpa deadline yang mengharuskan dia menghasilkan suatu karya dalam waktu tertentu.

Berbicara tentang momen inspiratif (saya lupa apa istilahnya untuk ini, nanti kalo udah ketemu, saya update deh), Gilbert bercerita tentang inspirasi atau ide yang suka datang mendadak dan macam-macam cara orang menghadapinya. Bagi temannya yang seorang poet, ide datang ibarat gemuruh geluduk yang kian mendekat. Dia akan meninggalkan semua yang dikerjakannya, untuk berlari dan mengambil alat tulis. Karena jika dia tidak buru-buru, maka gulungan ide tersebut akan pergi melewatinya begitu saja untuk mencari orang lain yang bisa mewujudkannya dalam tulisan.

Gilbert juga berkisah tentang temannya yang seorang musisi. Suatu hari, saat sedang menyetir mobil, sebuah melodi terus-terusan terngiang di kepalanya. Dia tidak bisa langsung mengabadikannya karena dia tidak bawa alat tulis ataupun alat perekam. Jadi yang dia lakukan adalah, menatap langit & berseru, “Can’t u see I’m driving? Go get someone else to bother!”

Jadi dari cerita Gilbert tersebut, ada 2 tipe orang saat menghadapi ide yang datang mendadak. Yang pertama, meninggalkan semua untuk menangkapnya, dan yang kedua, mengatur sendiri kapan dia mau ide untuk menghampirinya.

Gilbert pun sempat mengalami writer’s block saat menulis Eat, Pray, Love. Saat itu, dia teringat kisah filsuf/seniman Yunani dan juga kisah teman-temannya. Dia lalu menoleh ke sudut kosong ruangannya, lalu bilang, “I’ve done my part, I did my best. Now it’s your turn.”

Salah satu dari 20 menit paling menyenangkan yang saya lalui. And yea, saya pun bersemangat kembali untuk menulis. Emang sih belum nulis fiksi/fantasi—atau ngelanjutin ide novel yang udah mandeg setaun—suatu hal yang sangat saya gemari, karena dewa inspirasi lagi males mampir ke rumah saya. But hey, setidaknya saya nulis ini kan? ^^

Novel Supernatural: Nevermore and Witch’s Canyon

Akhirnya, dua novel Supernatural menyesaki koleksi buku-buku saya. Koleksi yang sepertinya bakal dilego ama hubby kalo masih juga saya geletakin seenak-enaknya gitu :p

Yang pertama, judulnya Nevermore. Kalo diterjemahin, jadinya Horor Edgar Alan Poe, soalnya ceritanya emang berkisar pada serentetan pembunuhan yang diinspirasi kisah-kisah karya master horor klasik itu. Salah satunya, The Tell-Tale Heart. Bagi saya, novel ini lucu. Sam & Dean terasa hidup di sini. Dialog-dialognya seakan benar-benar keluar dari mulut Winchester bersaudara itu. Saking kuatnya karakter mereka, saya bahkan bisa ngebayangin ekspresi & intonasi saat mereka bercakap-cakap.

Tapi sayangnya, ceritanya kurang kuat. Terlalu sepele. Darahnya sedikit. Alasan pembunuhannya kurang oke.

Novel kedua berjudul Witch’s Canyon. Versi terjemahannya dikasi judul Ngarai Penyihir. Nah kalo yang ini, ceritanya oke. Korbannya tercabik-cabik, penuh darah, dan banyak. Ketegangannya juga cukup terbangun.

Tapiiiii… dialog-dialognya cenderung muram. Saya ga bisa ngebayangin kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Sam atau Dean. Kenangan mereka akan masa kecil dan ayahnya juga sedih dan tidak menyenangkan. Ga tau sih ya, apakah karakter John Winchester yang diciptakan Eric Kripke sebagai ayah mereka emang keras seperti itu. Tapi kalo liat serialnya, sepertinya ga sekeras itu (or simply i’m distracted by James Dean Morgan & Matt Cohen who both played as John :p). Jadi, karakter Sam & Dean yang di novel ini seperti sisi lain mereka yang baru saya kenal.

Anyway, selama saya masih addicted ama Supernatural, i don’t mind. So keep ‘em coming! ^o^

Book Wishlist

Wizards: Magical Tales from the Masters of Modern Fantasy

Buku ini ditulis keroyokan. Berhubung saya emang demen baca kisah fantasi semacem ini, saya langsung naksir buku ini sejak liat wujudnya doang. Hehe, belum dibaca sih. Jadi belum tau juga bagus atau ngganya. Sayangnya di Gramedia adanya yang versi terjemahan, sedangkan saya dengan belagunya pinginnya yang versi bahasa Inggris. Untungnya, Tuhan sayang ama saya. Lewat seorang teman saya dapetin buku ini sebagai kado ultah yang telat. Hohoho…

The Supernatural Books of Monsters, Demons, Spirits and Ghouls


John Winchester’s Journal

Dua buku di atas ditulis oleh Alex Irvine, dan merupakan official books dariSupernatural TV Series. Dean & Sam Winchester (and Castiel, their guardian angel) itu guilty pleasure saya. So I want the books ^^

Masih dicari: donatur yang mau beliin 2 buku Supernatural karya Alex Irvine di atas. Anda kah orangnya?

The Air

He’s simply the air. Always around, though often you don’t notice. But when he left, you feel something missing.

He’s the warm feeling like when you get when you curl up on bed under a blanket  in the cold night.

He’s the cool breeze that you get when you turn on the air-con on a hot summer mid-day.

He’s simply the air.

And I’m so grateful that he’s mine…

 

[13-10-10.. Happy birthday, hun..]

Emo

I think I’ll keep my suicidal emo with me, because afterall, a poet needs the pain.

But, hey wait, I’m not even a poet!

:p