Bebas Rontok dengan Sariayu Hijab Intense Series

Kayaknya gak ada ya yang gak pingin rambut sehat bebas rontok. Apalagi para perempuan. Walau berhijab sekalipun, rasanya senang kalau rambut tumbuh lebat dan indah. Tapi gak sedikit juga yang bermasalah dengan rambutnya. Yang ketombean lah, bercabang lah, atau malah rontok. Terus terang, bagi saya, yang terakhir ini paling serem. Menyaksikan rambut rontok tiap keramas atau menyisir itu cukup bikin stress loh. Dan sialnya, itu yang saya alami.

Padahal waktu kecil, rambut saya lebat dan hitam. Memang sih ikal dan berantakan. Tiap helainya seakan punya kehendak sendiri yang berlawanan dengan keinginan saya. Tapi hei, setidaknya rambut saya sehat-sehat aja. Hal yang saya tidak syukuri, karena mulai masa kuliah (alias masa-masa pemberontakan), saya mulai rajin bereksperimen dengan rambut saya, tanpa diimbangi dengan melakukan perawatan. Mulai dari di-smoothing, dicat, di-bleach, sampai dicatok. Hasilnya seperti yang bisa ditebak, rambut saya menderita dan rusak. Kering, bercabang, dan yang paling saya takutkan pun terjadi. Yap, rambut saya kian menipis karena rontok.

Saya mulai melakukan perawatan rambut rutin, sejauh keadaan dompet saya mencukupi lah. Dan selama gak lupa atau malas. Hihihi. Kurang maksimal jadinya. Selain itu, sudah agak terlambat karena the damage is done. Segala merek shampoo anti rontok pun jadi langganan.

Saat saya berhijab, masalah baru pun muncul. Rambut jadi lepek kalo ditutupi seharian. Apalagi cuaca Jakarta yang ampun deh gerahnya. Sering keramas salah, jarang keramas pun salah. Saya pun jadi punya lebih dari satu shampoo di kamar mandi, untuk dipakai sesuai kebutuhan. Kalo rambut lagi lepek, saya pake shampoo A. Kalo lagi kering, saya pake shampoo B. Repot ya? Hahaha.

Karena saya juga mulai peduli pada komposisi produk yang saya pake, makanya sedikit banyak saya perhatikan bahan-bahan pembuatnya. Saya cari yang natural dan tidak diuji coba ke hewan. Jangan lupa juga soal halalnya, biar makin afdol.

Lalu saya bertemu dengan shampoo hair fall keluaran Sariayu Hijab Intense Series (jeng-jeng-jeng!). Dari bahannya, udah gak diragukan lagi kealamiannya. Sariayu kan sudah lama dikenal dengan produk-produknya yang mengandung bahan alami. Ada logo halalnya pula, jadi aman deh pakenya. Terlebih lagi, Sariayu ini kan produk lokal buatan Indonesia. Bangga dong pake produk Indonesia bermutu seperti ini.

Gambar diambil dari http://www.sariayu.com/hijab-series/

Sampai saat ini, rambut rontok saya berkurang. Jadi gak terlalu stress lagi saat waktu keramas dan menyisir rambut. Rambut juga gak lepek walaupun ditutup seharian. Kandungan ekstrak kacang polong dan kedelai ini memiliki 3 langkah intensif, yaitu:

  • Mengurangi kerontokan rambut
  • Membantu menguatkan akar dan inti rambut
  • Membantu melindungi dan memperbaiki rambut dari kerusakan

Tepat seperti yang saya butuhkan. Wanginya juga segar dan tahan lama. Rambut berkerudung kan gampang berkeringat yang memicu terjadinya bau tak sedap ya. Nah kalo pake ini, pas buka kerudung, rambut tetap wangi. Mau lebih optimal perawatannya? Jangan lupa pakai Sariayu Hijab Conditioner, Hair Tonic Lotion, dan Hair Mist.

Buat kamu-kamu yang berhijab, ada tips tambahan nih dari saya. Buka deh web www.diaryhijaber.com dan bergabung bersama komunitas hijaber terbesar di Indonesia. Banyak loh manfaatnya. Kita bisa bertukar cerita, pengalaman, dan tips seputar fashion, life style, atau makanan halal. Seru kan?

 

 

Pisang si Buah Banyak Manfaat

Yang udah punya anak pasti akrab ama buah satu ini: pisang. Hampir semua bayi yang masuk usia MPASI pasti nyicipin yang namanya pisang kerok, yaitu pisang yang dikerok tipis pake sendok. Bayi pasti doyan lah, pisang kan manis. Ditambah lagi mengenyangkan, jadi praktis banget.

Langit juga paling suka pisang. Dikerok langsung atau dihancurkan di mangkoknya, dia pasti makan dengan lahap. Sampai sekarang pun dia sering menunjuk pisang dengan hepi, minta dikupasin. Bedanya dia sekarang gak mau disuapin, maunya pegang dan makan sendiri. Maklum, udah 20 bulan usianya.

Bangun tidur kumakan pisang…

Gak cuma anaknya, emaknya pun doyan pisang. Gampang didapat dan gampang dimakan, dua hal yang jadi alasan pertama bagi orang malas kayak saya. Apalagi pas tau manfaatnya bagi tubuh, makin doyan deh. Yang suka bad mood, boleh loh dimakan pisangnya. Biasanya cewek kalo lagi datang bulan kan suka mood swing parah. Nah, waktu yang pas untuk makan pisang. Ini gara-gara kandungan potasium-nya yang bermanfaat melawan bad mood. Karena mengandung serat tinggi, makanya pisang itu anti sembelit dan bikin kenyang, jadinya cocok buat diet. Tapi jangan kayak saya ya, makan pisangnya abis melahap seporsi nasi padang. Diet? Apa itu diet?

Ternyata emang bener ya, pisang ini bagus dimakan para cewek saat datang bulan. Selain masalah bad mood tadi, pisang juga mencegah anemia. Yang tensi darahnya suka drop atau malah melonjak juga wajib makan pisang nih, karena pisang menjaga tensi darah di angka stabil.

Mau tau manfaat lainnya? Pisang juga mengandung vitamin C yang jago melawan radikal bebas. Radikal bebas ini berbahaya loh, karena dapat menyebabkan penyakit kronis, kerusakan DNA, serta kerusakan jaringan. Nah yang bisa melawan radikal bebas ini antara lain adalah antioksidan, yaitu senyawa pelindung sel yang didapati dari buah dan sayuran. Antioksidan ini banyak didapati dari makanan yang mengandung vitamin E, vitamin C, dan karotenoid. Selain enak rasanya, ternyata mengonsumsi pisang banyak banget manfaatnya ya.

Yang jadi masalah cuma satu, saya gak pinter milih pisang yang bagus. Kalo belum dicicipi, saya gak bakal tau mana pisang yang sudah matang atau masih mentah, dan mana yang enak atau kurang enak. Seperti kita tau, jenis pisang di Indonesia ini kan banyak bener. Nah, makanya daripada repot, mending pilih buah dari Sunpride yang mutunya udah terjamin. Asal pilih pun gak akan kena zonk. Begitu pun dengan pisang cavendish Sunpride. Gampang didapat. Di minimarket depan rumah, ada. Di supermarket yang agak jauhan dari rumah pun banyak. Di tukang buah yang ada di ujung jalan juga tersedia.

Harganya gak mahal koook…

Sukanya buah impor dong? Eh jangan salah, pisang cavendish ini buah lokal loh. Pisang cavendish Sunpride ditanam di perkebunan milik Group Gunung Sewu yang ada di Lampung. Mungkin karena kulitnya kuning cerah dan mulus ya makanya dikira buah impor. Padahal ini dikarenakan perawatan yang maksimal mulai dari pemilihan bibit dan pengemasannya. Pisang cavendish Sunpride ini dikembangbiakan lewat metode kultur jaringan. Metode ini lebih unggul dibanding metode anakan, karena bibit pisang hasil metode kultur jaringan terbebas dari penyakit seperti layu moko akibat Pseudomonas solanacearum dan layu panama akibat Fusarium oxysporum cubense.

Ah, pisang kan harus beli satu sisir. Kebanyakan. Susah ngabisinnya. Wah belum tau ya, pisang cavendish Sunpride dijual dalam jenis cluster, finger, dan single. Cluster itu terdiri dari 3-8 fingers, finger terdiri dari 1-2 fingers, sedangkan single hanya ada 1 finger. Yah namanya juga single alias jomblo, jadinya sendirian deh. Tapi Sunpride memperlakukan pisang jomblonya dengan istimewa, yaitu dengan dikemas dalam plastik khusus yang berlubang, sehingga menjaga suhu buah dan mencegah pertumbuhan jamur.

Saya sendiri kalo beli pisang pasti yang cluster, secara sekeluarga doyan semua. Kalo gak abis, bisa diolah jadi makanan lain. Banana cake, misalnya. Kalo ini, Langit lebih suka lagi. Bocah ini paling doyan makanan seperti cake atau roti. Olahan pisang lain yang lebih praktis itu banana pancake. Resep ala pemalas macam saya ya tinggal dihancurkan pisangnya, tambahkan tepung dan susu cair secukupnya. Tuang di atas wajan anti lengket yang dikasi margarin. Enak deh, pinggirnya asin margarin, tengahnya manis pisang. Praktis dan cepat untuk sarapan atau cemilan.

Kalau punya roti tawar, juga bisa bikin kreasi cemilan bergizi dan mengenyangkan dengan pisang. Potong-potong pisang memanjang, gulung dengan roti tawar yang sudah dipipihkan. Panggang di atas wajan anti lengket. Sajikan dengan topping susu kental manis, keju, atau topping favorit lainnya. Simpel kan?

Tuh, kurang apa deh pisang Sunpride ini. Makanya, pisang pasti Sunpride!

Ngapain Aja di Malang?

Selfie sebelum boarding di Bandara Halim

Tanggal 18 Februari lalu, kami sekeluarga pulang kampung ke Malang. Walaupun sempet drama turbulence pas landing, the rest of the trip went well. Kami ke Malang sebetulnya untuk menyelesaikan beberapa urusan keluarga. Tapi ga mungkin kan seminggu di sana ga ke mana-mana, apalagi bawa bocah umur 14 bulan yang lagi aktif-aktifnya. 

Kami memutuskan untuk berkeliling ke taman-taman di Malang. Tujuan utamanya ya biar si bocah puas lari dan main. Selain itu, hemat cuy, secara gratis. Bagi yang belum tau, taman di Malang sekarang bagus-bagus loh. Tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, kami baru sempat mampir ke beberapa tempat aja. 

Alun-alun Malang

Bocah kegirangan bisa jalan-jalan di rumput

Sayangnya di sini cuma sebentar karena hujan. Padahal tempatnya luas dan Langit seneng banget menjelajah. Dia cuek aja jalan sendirian di rumput yang basah kena ujan, ngejar burung merpati, bahkan sok akrab ke bapak-bapak yang ngaso di salah satu bangku taman. 

Hutan Kota Malabar

Pintu gerbang Hutan Kota Malabar

Sesuai namanya, tempat ini ibarat hutan kecil di tengah kota. Rimbun dan sejuk. Kami sempet bertatapan ama seekor tupai sebelum dia akhirnya kabur naik pohon. Tapi waspadalah terhadap makhluk-makhluk kecil macem serangga, laba-laba, ulet, dan nyamuknya ampun. Kalo bawa bayi atau balita, sedia minyak telon atau krim anti nyamuk ya. 

Taman Merbabu

Bapak-anak main ayunan

Taman ini hasil CSR produk kecantikan (silakan gugling untuk info lebih akurat). Di sini ada beberapa ayunan, dan alat olahraga yang sayangnya udah pada rusak. Banyak bangku, jadi enak bisa duduk-duduk santai. Ada batu-batu buat pijat refleksi kaki, alias alat penyiksaan jaman abad pertengahan. Sakit, jendral!

Pijat refleksi kakinya kakaaaak
Eh ternyata cuma tiga tempat ya? Dikit amat. Tadinya mau ke Taman Slamet segala, tapi belum sempet. Oh iya, sekadar info, di Malang kami bepergian pake jasa transportasi online. Tapi sampe tulisan ini dibuat, mereka masih kucing-kucingan dan beberapa ada yang diintimidasi oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan. Mudah-mudahan masalahnya cepet beres deh, biar lebih seru dan mudah lagi untuk keliling Malang.  

Sepatu Baru Langit

 

Sebetulnya saya ga suka sepatu anak yang bunyinya berdecit-decit. Ga suka bunyinya. Sebagai orang yang gampang kebangun ama suara remeh temeh, decitan itu cukup ganggu bagi saya. Lalu saya pun bertekad, nanti kalo punya anak, ga akan dibeliin sepatu macem gitu.

Tekad itu hanya bertahan sampe hari ini.

Tadi siang, kami sekeluarga ngadem ke mol. Suami mo cari sendal. Saya mo mengobati kedahagaan saya akan udara dan pemandangan di mol yang padahal baru saya kunjungi sekitar 2 minggu lalu.

Di toko sepatu, karena Langit ikutan rese nyoba-nyoba sepatu orang gede, saya bawa dia ke bagian sepatu anak dan bayi. Eh ada yang lucu. Dicobain, dia seneng. Bapaknya juga seneng. Emaknya ikutan seneng. Tapi kok ada bunyi decit-decitnya ya? Saya liat suami, pingin tau pendapatnya.

“Ga papa, ambil aja,” gitu katanya.

Ya sudah lah ya, secara bukan saya yang bayar, saya mah oke-oke aja. Apalagi modelnya lucu, ga kayak sepatu bayi banget. Tadinya mo sekalian nyelipin sepatu yang udah saya cobain sebelumnya. Tapi kayaknya ga mungkin lolos.

Langit langsung ogah duduk di stroller, dia hepi jalan ke sana-sini, dorong-dorong stroller-nya.

My heart melted. We went home with a cheerful 1-year-old baby boy.

Tiga Belas Bulan

Hari ini, 18 Januari 2017, Langit genap berusia 13 bulan. Mulai pagi tadi dia bisa berdiri sendiri tanpa dibantu. Alhamdulillah siang tadi dia bisa jalan sendiri. Saking girangnya, dia malah sempet nyungsep di lapangan badminton pas diajak main ke sana sore tadi!

It’s an overwhelming feeling being a mother is. You’re filled with love for your child, the love that’s even bigger than you’ll ever love yourself.

Saya bukan ibu yang baik. Not yet. Masih belajar dan berusaha untuk jadi seperti itu. It’s one hell of a journey. Dan walopun banyak drama, in my opinion, saya berhasil melewati tahun pertama dengan cukup baik 😀

Langit mungkin belum bisa ngomong (baru bisa mengeong dan bilang mamam). Jalannya juga masih tertatih, belum mantap menjejak. Dia juga masih takut ama ini-itu, ga mau digendong ama orang selain ortu dan kakeknya. Tapi dia tumbuh dengan iramanya sendiri, menikmati tiap harinya, and he will get there eventually. I’m so proud of you, my baby boy!

Daily Life of a Stay-at-Home Mom-to-be

  • Pagi-pagi kebangun dan bertanya-tanya ini hari pengambilan sampah atau bukan. Kalo bukan, tidur lagi. Kalo iya, bangun tertatih-tatih untuk buka pintu pager.
  • Elus-elus perut yang kedutan karena baby Peanut juga ikutan bangun.
  • Kelewatan tukang sayur pagi karena terlalu malas untuk bangkit dari kasur. Berharap tukang sayur yang agak siang jualan.
  • Mengeluh pada tukang sayur yang agak siang betapa mahalnya harga bahan makanan sekarang. Tapi tetep dibeli juga, abisnya mau gimana lagi.
  • Masak. Sarapan. Ngemil.
  • Ngurusin suami yang mau berangkat kerja.
  • Melapar lagi sebelum tengah hari. Membujuk baby Peanut supaya sabar sebentar, because I’m too sleepy to eat.
  • Menjelang tengah hari udah kriyep-kriyep. Niatnya baring-baring, eh ternyata ketiduran beneran.
  • Sore ke rumah ortu, ngobrol ini-itu, main ama keponakan.
  • Magrib pulang. Mainan hape, nonton tv, nunggu suami pulang.

Makan Enak di Wolter Bistro

Daerah Santa memang salah satu tempat ngumpulnya makanan enak. Banyak kafe, resto, atau pun warung tenda. Biar gaya, gak makan di emperan mulu, sekali-kali ngafe lah. Mampir ke Wolter Bistro. Alamatnya di Jl. Wolter Monginsidi No. 59, tepat di seberang Total Buah Segar.

Bingung mau makan apa? Kata Pak Hermansyah, owner sekaligus chef, ada beberapa menu andalan di sini: Grilled Chicken with Potato Wedges, Steak Cabe Rawit, Sop Buntut, dan Crispy Duck. Yang fenomenal sebetulnya Crispy Duck. Tau dong Bebek Tepi Sawah yang ngehits di Ubud (dan sekarang ada di Citos)? Nah Crispy Duck ini terinspirasi dari Bebek Tepi Sawah.

“Berani diadu deh rasanya,” promosi Pak Hermansyah.

Chef Herman

Malah menurut beliau, banyak orang bahkan dari jauh ke sini pingin makan bebek ini. Rahasia empuknya karena proses masaknya yang lama. Pertama-tama, bebeknya dipotong dulu (ya iya lah), setelah dibersihkan, lalu dipresto. Setelah itu dibekukan selama 2-3 hari. Yea, you read that right. Dua sampe tiga hari. Abis itu digoreng dua kali, pake api kecil lalu api besar. Baru deh bisa disajikan di piring. Karena itu, menu ini terbatas tiap harinya. Jadi siapa cepat dia dapat.

Steak cabe rawit ini rasanya beda ih
Steak cabe rawit ini rasanya beda ih

Ada juga steak cabe rawit. Bukan, bukan cabe rawit yang dibakar seperti yang awalnya saya kira (don’t imitate my stupidity, friends). Tapi steak daging sapi yang di atasnya dikasi “sambal” cabe rawit. Rasanya? Enak 😀 Kata Pak Hermansyah, menu ini didapat dari pengalaman beliau selama bekerja di Freeport. Udara yang dingin bikin sulit keringetan. Jadinya para karyawannya seneng makan yang pedes-pedes. Ditambah juga rasa bosannya terhadap saus steak yang gitu-gitu aja. Akhirnya dicoba bikin deh. Steak cabe rawit ini disajikan bareng butter rice biar makin cihuy. Cocok lah ya ama perut orang Indonesia yang gak kenyang kalo gak makan nasi. Mie instan pun dimakan ama nasi biar kenyang, ya kan?

Sop buntutnya juga diadaptasi dari sop buntut Hotel Borobudur yang beken itu. Berarti rasanya gak usah diragukan lah ya.

Grilled Chicken
Grilled Chicken with Potato Wedges

Grilled chicken-nya gurih dan empuk. Karena ini menu western, jadi pendampingnya potato wedges. Tumisan sayurannya enak, gak tau deh bumbunya apaan. Pokoknya enak 😀

Jus Janda Kembang
Jus Janda Kembang. Campuran buah naga & sirsak. Enak. Sehat pun.

 

Oiya,pemburu gratisan, lagi ada promo nih, follow sosial medianya, dapetin free kopi tarik atau kopi saring susu kalo makan di sini. Mayan kan?

Twitter: @WolterBistro | Facebook: Wolter Bistro | Path: Wolter Bistro

Korea Trip: Kuliner!

Terus terang, saya kurang selera ama makanan Korea. Selain harus ati-ati dengan ke-halal-annya, bagi saya tampilannya gak bikin ngiler tak terkendali kayak kalo lagi liat Mats Hummels. Atau mungkin saya kurang tau aja ya? Tapi ada sih beberapa makanan yang saya doyan banget, dan Insha Allah halal 😀

 

Topokki - Odeng

Odeng ini jajanan murah meriah. Satu tusuknya 500 KRW saja (sekitar 5-6 ribu rupiah). Odeng ini semacem fish cake yang direbus di kuah kaldu. Enaknya dimakan sambil dicocol ke kecap asin yang disediakan. Gampang banget ditemuinya, mulai dari pinggir jalan, pasar, rumah makan, sampe ke kantin/food court di stasiun dan pusat perbelanjaan. Kuah kaldunya itu disajikan di gelas atau mangkuk kecil, emang buat diminum setelah makan. Biasanya sih jualnya barengan ama topokki, potongan rice cake & fish cake yang dicampur pasta cabe. Di atasnya ditaburi wijen biar makin sedap. Seporsinya dihargai 2-3 ribu KRW (sekitar 20-30 ribu rupiah). Topokki ini biasanya dimakan bareng sundae. Bukan, bukan es krim sundae, tapi sosis darah babi. Tapi dipisah kok, gak dicampur dalam satu panci. Nanti kalo diminta, barulah dipotong-potong dan ditaruh di piring. Gak semua penjual odeng jual topokki, dan gak semua penjual topokki jual sundae. Favorit saya ada di pasar, penjualnya sepasang suami-istri yang ramah dan suka ngasi bonus (hohoho). Selain odeng dan topokki, mereka juga jual tempura udang, ikan, gimbap, dan cabe ijo.

Saengseon-gui

Saengseong-gui, alias ikan bakar ala Korea. Ini wajib coba. Oiya, kalo pesen makanan Korea, biasanya pendampingnya macem-macem. Mulai dari kimchi, acar, lalapan, tumisan, gorengan, sambal, dan sup. Meriah pokoknya. Makanan pendamping ini gratis dan bisa minta lagi kalo abis. Saya coba yang deket apartemen, di pinggir pantai deket Hyundai Heavy Industries, Ulsan. Harganya 8 ribu KRW per porsi. Enak, rasanya asin dan gurih. Tapi kalo udah gak panas, jadinya agak amis. Mendingan pesennya jangan satu orang satu porsi, ikannya mayan gede. Ntar kalo kurang kan tinggal tambah lagi.

Fish Soup

Sop ikan ini saya coba di restoran pinggir Haeundae Beach, Busan. Gak tau nama Korea-nya. Kuahnya bening, dan enak dimakan anget-anget pas cuaca lagi dingin. Tapi, rasanya hambar. Kurang asin, kurang pedes, kurang gurih. Hhh… Bukannya gak enak sih, tapi ya itu, nanggung bener. Seporsinya 9 ribu KRW, bisa dimakan berdua/bertiga. Kalo laper sih, makan seporsi sendiri juga gapapa. Saya mah gak nge-judge.

Chukumi

Chukumi ini yang fenomenal. Hahaha. Waktu itu kami (saya, adik saya & suaminya) iseng masuk ke restoran yang terletak tepat di belakang halte bis Ilsan Beach, Ulsan. Gak ada di antara kami yang pernah nyoba makan chukumi sebelumnya. Namanya apa juga kami baru tau setelah makan dan googling. Semua pelayannya gak ada yang bisa bahasa Inggris. Menunya pun pake hangeul, gak ada tulisan latinnya. Kami cuma liat ada gambar gurita di plang restorannya. Hohoho. Entah gimana, akhirnya kami berhasil pesen juga. Kompor di meja dinyalain, dan kami dipakein apron. Liat sana-sini kok gak ada pelanggan lain yang pake apron ya? Jangan-jangan dikerjain nih. Hahaha. Sekumpulan cewek di meja sebelah dengan baik hati ngajarin cara masaknya, walopun dengan bahasa tunjuk karena mereka gak bisa bahasa Inggris. Chukumi ini pedas. Banget. Seporsinya dihargai 11 ribu KRW.

Coffee Machine

Yang menyenangkan, di tiap rumah makan Korea biasanya disediakan kopi gratis untuk diminum setelah makan. Mesin kopi ini ditaruh di dekat pintu keluar atau dekat kasir. Karena tulisannya pake hangeul, jadi saya asal pencet aja, berdoa semoga yang keluar itu coffee cream with sugar. Karena biasanya ada 3 pilihan, black coffee, coffee cream no sugar, dan cream coffee with sugar. Selama sebulan saya di Korea, saya cuma gagal 1 kali, yay!

Korea Trip: Keliling Naik Bis

Halte Bis

Transportasi umum bisa cukup menantang kalau kita ada di tempat asing, terutama di negara lain yang tidak berbahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Di Korea, dalam hal ini di Ulsan, pun begitu. Ada sih tulisannya, tapi boro-boro tau artinya, bacanya aja gak bisa. Untungnya di Ulsan ada web Ulsan Online yang cukup lengkap memberi info soal nomor bis dan rutenya, dalam bahasa Inggris. Tapi kenyataan tak semudah di web, saya tetep aja nyasar.

Baru pertama kali naik bis, karena malu bertanya, maka saya dan adik pun tersesat di jalan. Setelah satu jam muter-muter kota, kami kelewatan halte tujuan dan malah sampai ke terminal bisnya. Hahaha. Moral of the story: walaupun gak tau pengucapannya dan pasti salah ngucapinnya, jangan malu tanya ke sopirnya soal tujuan kamu. Nanya sekali lagi juga gak papa buat memastikan. Ya kali aja sopirnya lupa.

Kalau mau naik bis di Ulsan, beli kartu Bee-Money. Ada di convenience store macem Seven Eleven atau C4U. Nanti untuk top up juga di convenience store. Saldo di kartu udah gak cukup ata cuma iseng naik bis? Bisa bayar pakai uang tunai juga kok. Harganya sedikit lebih mahal dari bayar pakai kartu (pakai kartu 1140 KRW, kalo dengan uang tunai 1200 KRW). Di halte, kita bisa lihat estimasi waktu kedatangan bis yang ditunggu. Selain itu ada info rute, dan bis nomor berapa yang lewat halte tersebut.

Pas naik bis, tempelkan kartu ke box yang biasanya ada di dekat sopir atau pintu masuk. Ada juga kotak transparan untuk tempat uang bagi yang gak punya kartu atau saldonya gak cukup. Siapin kartunya sebelum masuk bis, biar gak ganggu calon penumpang lain.

Perhatikan bangku-bangkunya. Ada bangku prioritas dengan warna berbeda. Kalau bangku lain penuh, biasanya orang cuek aja duduk di bangku prioritas, tapi kalau ada lansia, bumil, penyandang cacat, atau yang bawa anak kecil, mereka akan memberikan tempat duduknya.

Untuk berhenti, tekan tombol stop satu halte sebelumnya. Jadi sopirnya tau kalau ada yang mau turun di halte berikutnya dan ngebukain pintu belakang.

Kabar baiknya adalah, di tiap halte ada free wifi. Seru kan? 😀

What’s Your Earlier Work of Fiction?

I can’t remember at what age I started to write. Maybe in elementary school. Writing diary. Stupid diary, to be more specific. I didn’t remember much about my junior high (yea, I have a selective amnesia *eyeroll*), but I do remember my writing from high school.

The first year of it, I wrote about a boy who accidentally opened a door to the 4th dimension. The creatures from there were the worst of our nightmares. The boy could only close it if he defeated Deity, God of the Moon. And it was possible, because apparently the boy was a descendant of Apollo, God of the Sun. The battle was not to be fought alone. A vampire from the 4th dimension somehow decided to help him (back then, vampires not as sparkle and popular as now). It was a tragic happy ending. If only it was finished.

One story that finished actually a fanfiction. Still in my high school years. Silly story about Oasis vs Blur (those were the era of British Invasion). Noel was the king of Planet Oasis, with Liam as the prince. They had to overcome the rebellion of the refugees from a small planet called Blur. And because I was pro-Oasis, of course they were the winner.

My college years were filled by fanfiction. Posted two of them, here and here. You who aren’t familiar with the Japanese rock might want to skip it. Yea, I was such a big fan back then. But of course I didn’t want to write fanfiction all my life – not that it’s wrong.

I remember one day, sitting on one of McDonald’s bench in BIP, Bandung, talking to a friend. Random things to another, he asked how I saw myself in many years to come. I said, I pictured myself at a corner of a coffee shop, deep in thought or frantically typing on my laptop. I pictured my novel(s) on the shelf of bookstore. We were laughing it off. At that time, the dream seemed so far away.

Years later – in 2013 to be exact, I did have a novel on the shelf of a bookstore. A duet novel with Vanny PN, titled Sketsa Terakhir. It was one of the best moment in my life, to see my dream had embodied. I hope it’s just a beginning of a dream, not the end of it.

So, that’s my story. How about yours?